Tampilkan postingan dengan label konten linkedin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konten linkedin. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 September 2021

Penyakit Kronis Kita di LinkedIn : Waspadai, Karena Kita Sering Menyukainya !

 Oleh : Bambang Haryanto ||

 

Tahukah Anda penyakit kronis yang berpotensi menulari Anda begitu Anda punya akun media sosial? 

Berhati-hatilah!

Tapi jangan  cemas dulu. Kebanyakan penderita serius penyakit kronis itu, disebut egosentrik, adalah perusahaan.

Terkait hal itu seorang konsultan digital dari Inggris, Christopher Robin, pernah memajang kritikan berjudul "Why your content sucks." Isinya bisa bikin merah telinga.

Dia contohkan betapa dalam situs web kebanyakan perusahaan terbaca, "kita melakukan hal ini dan hal itu. Kita memperoleh sertifikat 📜 bla bla bla dan juga telah memenangkan award bla bla bla."

Ringkasnya : setiap isi postingan di situs web, cerita di blog dan media sosial, adalah cerita melulu berfokus tentang 🍻 perusahaan Anda sendiri.

Kata Christopher Robin, "semua bla bla bla Anda itu hanya akan dicuekin pelanggan Anda. Karena yang mereka hiraukan adalah apa yang Anda  lakukan untuk mereka."

Begitulah. Egosentrik adalah bawaan kita sebagai manusia dari sononya. "Orang terutama tertarik pada diri mereka sendiri, bukan pada Anda. Dengan kata lain,orang itu 10.000 kali lebih tertarik pada dirinya sendiri daripada pada Anda."

Kalimat maknyuzz itu saya kutip dari Les Giblin dalam bukunya Skill With People (2001).

Bukti kebenarannya, silakan selisik saja di postingan yang lalu lalang di lini masa LinkedIn Anda saat ini.

Tak ayal para influencer media sosial sudah lama 📢 teriak-teriak mengingatkan kecenderungan egosentrik yang masif mudah membelit kebanyakan dari kita itu.

Seorang Guy Kawasaki bikin rumus porsi postingan yang keren : 90% isinya yang bermanfaat bagi audien. Sedang sisanya 10%, bisalah  untuk mempromosikan diri sendiri.

Sementara Gary Vee lebih bermurah hati. Perbandingannya, 51% untuk pembaca dan yang 49% silakan  untuk berfoya-foya berpromoria tentang diri kita.

Pakar iklan bilang, di awal postingan terlarang  bila kita memakai kata "saya." Karena audien akan segera berteriak, "mana untungnya bagi saya?"

Kebetulan hari ini hari Jumat. Kiranya cocoklah imbauan agar postingan Anda itu bisa meniru struktur seperti surat Al Fatihah. Bacaan awal semuanya tentang Gusti Allah. Pujian bagiNya.

Baru kemudian pamrih kita boleh dimunculkan dengan permintaan di bagian belakang : "Tunjukkan kami jalan yang benar..."  dan seterusnya.

Polling kita kali ini ingin mengulik penilaian Anda terhadap porsi orientasi postingan-postingan warga jejaring LinkedIn Anda.

Terima kasih untuk peranserta Anda. Hasil polling silakan klik disini.


#content  #contentcreator #linkedinpost

Sabtu, 21 Agustus 2021

LinkedIn Itu Ibarat Agama : Apakah Akan Mengantarkan Anda Ke Surga Atau Ke Neraka ?

 Oleh : Bambang Haryanto ||

Khotbah untuk Anda para #freshgraduate. Bahwa mengelola LinkedIn itu ibarat memeluk agama. Ada ritusnya, ada dosa, ada pula pahalanya.

Yang pasti, semakin kita merasuk, kita akan memergoki semakin banyak peraturan. Seringkali peraturan yang tidak mudah kita pahami. 

Ada yang bilang, "begini-begini" saja LinkedIn saya, sudah merasa cukup. Sementara Anda yang berniat mengelola akun LinkedInnya secara lebih profesional, banyak panduan yang menantang untuk dijelajahi. 

Tentu saja terkait topik utama aktivitas di LinkedIn : menciptakan konten. Atau tulisan. 

Teman saya penulis buku biografi, Ratih Poeradisastra, pernah berbagi ucapannya Winston Churchill.

Katanya, "Tulisan itu seperti rok perempuan. Harus cukup panjang untuk mencakup pembahasannya dan harus cukup pendek agar menarik."

Kita tahu, untuk tulisan panjang, LinkedIn menyediakan 3.000 karakter untuk postingan. Tetapi bagi tulisan yang "harus cukup pendek agar menarik," tahukah Anda tentang angka magic 141  dan 191 karakter di LinkedIn?

Itulah jumlah karakter untuk judul dan lead/pembuka dari setiap postingan kita. Di HP, tersedia 141 karakter. Di komputer, jatahnya 191 karakter.

Ketahuilah, nasib postingan Anda tergantung kepada kreativitas Anda dalam menulis judul dan pembuka tersebut. Apa cukup menggelitik, juga mampu merangsang rasa ingin tahu pembaca? Atau sebaliknya?

Kalau magnet dari judul dan pembuka Anda itu mampu merangsang pembaca mengklik tulisan "see more" atau "lihat lainnya," Anda lolos dari lubang jarum. Berarti Anda lolos dari ujian algoritmanya LinkedIn.

Apabila tidak ada pembaca yang mengklik petunjuk "see more" atau "lihat lainnya" itu maka algoritma LinkedIn memperoleh sinyal bahwa tulisan itu tidak menarik. 

Tulisan yang tidak mampu memicu reaksi, loyo membangkitkan percakapan, akan terancam disembunyikan oleh algoritmanya.

Jadi tulisan sehebat, semutu atau berbobot pun,terancam jadi tulisan sia-sia bila pembacanya sedikit atau tidak terbaca sama sekali. 

Jadi, patuhilah aturan "agama"-nya LinkedIn untuk keberhasilan Anda.

Akhirnya, semuanya, memang terpulang kepada tujuan kita masing-masing dalam mengelola platform media sosial satu ini.

Setelah saya iming-imingi rumus 141/191 di atas, dalam polling ini saya ingin mengetahui langkah Anda dalam mengelola akun LinkedIn ke depannya. 
 
Hasil polling dapat Anda klik disini. Terima kasih.

 
#koneksiitukunci
#linkedin
#linkedinituberkoneksi




Waspadai Benda Berkilau di LinkedIn Bila Anda Bukan Sebagai Kreator Konten di LinkedIn

Oleh : Bambang Haryanto || Shiny object syndrome . SOS. Sindrom ⚡🌟⚡ inilah yang diam-diam serius mengancam 😈 Anda di LinkedIn. Utamanya bi...